ANALISIS KESULITAN SISWA TUNARUNGU DALAM

8m ago
52 Views
0 Downloads
380.88 KB
22 Pages
Transcription

ANALISIS KESULITAN SISWA TUNARUNGU DALAMMEMECAHKAN MASALAH PENJUMLAHAN DANPENGURANGAN BILANGAN BULAT KELAS VIISEKOLAH LUAR BIASA (SLB) B YAKUT PURWOKERTOSKRIPSIDiajukan kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Purwokerto untukmemenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh GelarSarjana Pendidikan (S.Pd.)Oleh:MUMAYIZATUNNIM. 1617407033PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKAFAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUANIAIN PURWOKERTO2020

ANALISIS KESULITAN SISWA TUNARUNGU DALAM MEMECAHKANMASALAH PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULATKELAS VII SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) B YAKUT PURWOKERTOMUMAYIZATUN1617407033ABSTRAKTunarungu adalah istilah yang diberikan kepada anak yang mengalamikehilangan atau kekurangmampuan mendengar, sehingga ia mengalamigangguan dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari. Ketidakmampuansiswa tunarungu dalam mendengar dan memahami bahasa menyebabkankemampuan intelegensi siswa tidak berkembang secara optimal,sehingga siswa mengalami kesulitan dalam belajar, termasuk kesulitandalam memecahkan masalah matematika. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mendeskripsikan kesulitan yang dialami siswa tunarungudalam memecahkan masalah penjumlahan dan pengurangan bilanganbulat kelas VII SLB-B Yakut Purwokerto.Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptifkualitatif dengan subjek penelitian siswa kelas VII SLB-B YakutPurwokerto tahun 2019/2020 yang berjumlah 6 siswa. Teknikpengumpuan data yang digunakan adalah observasi, tes pemecahanmasalah matematika, wawancara, dan dokumentasi. Setiap data daninformasi yang diperoleh dianalisis dalam bentuk deskriptif.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami olehsiswa tunarungu dalam memecahkan masalah adalah: 1) kesulitan dalammentransfer pengetahuan; 2) memiliki pemahaman bahasa matematikayang kurang; 3) kesulitan dalam menghitung; 4) kesulitan dalampersepsi visual. Kesulitan yang dialami oleh siswa dilihat berdasarkanteori yang dikemukakan oleh Martini.Kata Kunci: Kesulitan Belajar,Tunarugu, Pemecahan masalah matematika

DAFTAR ISIHalamanHALAMAN JUDUL .iHALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN .iiHALAMAN PENGESAHAN .iiiNOTA DINAS PEMBIMBING.ivABSTRAK .vKATA PENGANTAR .viDAFTAR ISI .viiiDAFTAR TABEL .xiDAFTAR GAMBAR .xiiDAFTAR LAMPIRAN .xiiiBAB IBAB IIPENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah .1B. Definisi Operasional .6C. Rumusan Masalah .8D. Tujuan dan Manfaat .8E. Kajian Pustaka .9F. Sistematika Pembahasan .11KESULITANSISWATUNARUNGUDALAMMEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKAA. Hakikat Matematika .13B. Pemecahan Masalah .151.Pengertian Pemecahan Masalah .152. Strategi Pemecahan Masalah .18

3. Faktor-faktor yang Memengaruhi KemampuanBAB IIIBAB IVPemecahan Masalah .19C. Kesulitan Belajar Matematika .19D. Penyebab Kesulitan Belajar Matematika .27E. Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat.28F. Hakikat Anak Tunarungu .321. Pengertian Anak Tunarugu .322. Penyebab Terjadinya Anak Tunarungu .333. Klasifikasi Anak Tunarungu .36METODE PENELITIANA. Jenis Penelitian .46B. Tempat dan Waktu Penelitian .46C. Subjek dan Objek Penelitian .48D. Teknik Pengumpulan Data .49E. Instrument Penelitian .52F. Teknik Analisis Data .53ANALISISKESULITAN SISWA TUNARUNGUDALAMMEMECAHKANMASALAHPENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGANBULATA. Penyajian Data .56B. Analisis Tes Pemecahan Masalah Siswa .57C. Analisis Hasil Observasi .62D. Analisis Hasil Wawancara .63E. Analisis Data.67

BAB VPENUTUPA. Kesimpulan .71B. Saran .72DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN-LAMPIRANDAFTAR RIWAYAT HIDUP

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahPendidikan dalam bahasa Arab biasa disebut dengan istilah tarbiyah yangberasal dari kata rabb seperti dinyatakan dalam QS. Fatihah [1]:2, Allah sebagaiTuhan semesta alam (rabb al-„alamin), yaitu Tuhan yang mengatur dan mendidikseluruh alam.1 Secara terminologis, pendidikan merupakan proses perbaikan,penguatan, dan penyempurnaan terhadap semua kemampuan dan potensimenusia. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu ikhtiar manusia untukmembina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dan kebudayaan yang adadalam masyarakat.2 Dalam masyarakat yang peradabannya sangat sederhanasekalipun telah ada proses pendidikan. Manusia mencita-citakan kehidupan yangbahagia dan sejahtera. Melalui proses pendidikan yang benar dan baik maka citacita ini diyakini akan terwujud dalam realitas kehidupan manusia.Kehidupan yang bahagia dan sejahtera merupakan cita-cita setiapindividu. Oleh karena itu setiap individu berhak untuk mendapatkan pendidikanguna mewujudkan cita-cita tersebut. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 disebutkanbahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. Hal ini menunjukkanbahwa anak berkebutuhan khusus juga berhak mendapatkan pendidikan yangsama dengan anak-anak pada umumnya. Pendidikan khusus (pendidikan luarbiasa) merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitandalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental,dan sosial.3 Dengan memberikan kesempatan yang sama kepada anakberkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran, berarti1Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, (Yoyakarta: LKIS, 2009), hlm. 14Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, hlm.153Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 32 ayat 12

memperkecil kesenjangan angka partisipasi pendidikan anak normal dengan anakberkebutuhan khusus.Anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang memiliki kesulitan belajarsehingga menuntut dibuatnya ketentuan pendidikan khusus untuk mereka.4Pernyataan ini hampir sama dengan pendapat Mojdeh Bayat yaitu,“Childrenwith special needs also referred to as exceptional children, are children who duea variety of factors such as a diagnosed condition/disability, environmental risks,or giftedness, might require a special education, which would differ from theeducation provided for other children who otherwise do not have exceptionalneeds”.5Anak tunarungu adalah anak yang tidak dapat mendengar, tidak dapatmendengar tersebut dapat dimungkinkan kurang dengar atau tidak dengar samasekali.6 Kehilangan pendengaran merupakan sebuah ancaman utama, bukan sajaterhadap komunikasi, tetapi juga kepada kehidupan pribadi dan sosial. 7 Seoranganak yang memiliki gangguan pendengaran akan mengalami hambatan dalammemberi dan menerima informasi yang bersifat verbal. Menurut kajian,mendengar dapat menyerap 20% informasi, lebih besar dibanding membaca yanghanya menyerap 10% informasi.8 Pendidikan khusus sangat diperlukan bagimereka yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran.Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam suatu prosesbelajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil4Jenny Thompson, Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta: Esensi, 2010), hlm. 2Mojdeh Bayat, Teaching Exceptional Children, (New York: McGraw-Hill, 2012), hlm. 46Jati Rinakri Atmaja, Pendidikan dan Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2018), hlm. 617Jamila K.A. Muhammad, Special Education For Special Children, (Jakarta: Hikmah, 2008),hlm. 558Dwi Irmawati, “Hubungan Gangguan Pendengaran dengan Prestasi Belajar Siswa”,https://www.google.com/url?sa t&source web&rct j&url http://eprints.undip.ac.id/23312/1/Dwi Irma.pdf&ved 2ahUKEwjQmYnvvrmAhUNSXOKHaWDD2oQFjAGegQIAhAB&usg AOvVaw1eHtQeyEtaCcw2XfEwhivK diakses pada tanggal 11 Januari 2020 pukul 9.20 WIB5

belajar.9 Kesulitan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor penyebabkesulitan belajar dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek medikal, psikologis danedukasi.10 Dari aspek medikal, kesulitan belajar dapat diidentifikasi dari faktaadanya gangguan psikis/anatomis. Berdasarkan aspek aspek psikologis, kesulitanbelajar disebabkan oleh disfugsi proses komunikasi atau belajar. Jika dilihat dariaspek edukasi, kesulitan belajar disebabkan karena kegagalan untuk mencapaiprestasi akademik atau tingkah laku yang diharapkan.Matematika merupakan bagian dari kehidupan manusia.11 Disadari atautidak, kita sering menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.Misalnya menghitung jumlah harga ketika berbelanja, menghitung untung-rugidan lain sebagainya. Meskipun secara tak sadar kita telah menggunakan prinsipmatematika dalam kehidupan, matematik masih dianggap sebagai pelajaran yangsulit di sekolah. Kesulitan dalam pelajaran matematika sering terjadi pada semuatingkatan usia,kesulitan yang umumnya terjadi adalah pada saat peserta didikmengukur benda, menghitung banyaknya benda, memahami bahasa yang dipakaidalam hitungan, dan menghitung dengan konsep-konsep rasional.12 Kesulitanbelajar matematika juga dialami oleh siswa tunarungu. Keterbatasan pendengaranyang dialami oleh siswa tunarugu menyebabkan terjadinya kesulitan belajarmatematika. Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa tunarungu salah satunyaadalah kesulitan untuk memecahkan masalah matematika.9Darlia, dkk., “Deskripsi Kesulitan Belajar dalam Menyelesaikan Soal Matematika Materi PokokKeliling dan Luas Segiempat di Kelas VII SMP Negeri 9 Kendari”, Jurnal Penelitian PendidikanMatematika, Vol. 4 No. 1, Januari 2016, hlm. 30.10Rikcki Yuliardi, “Analisis Terhadap Kesulitan Belajar Matematika Ditinjau dari AspekPsikologi Kognitif”, Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan, Vol. 3 No. 1, Mei2017, hal. 25.11Dhian Arista Istikomah dan Jana, “Kemampuan Pemahaman Konsep Matemtis MahasiswaMelalui Pendekatan Pembelajaran Saintifik dalam Perkuliahan Aljabar Matrik”, Prosiding SeminarNasional Pendidikan Matematika Etnomamatnesia, 927-932.12Ratna Kurniasari, dkk. “Permainan Monopoli dalam Operasi Hitung Campuran SiswaTunarungu”, Jurnal Ortopedagogia, Vol.2 No. 2, November 2016, hal. 54.

Pemecahan masalah matematika adalah suatu aktifitas kognitif yangkomplek yang disertai dengan strategi.13 Siswa yang kesulitan untuk memecahkanmasalah matematika adalah siswa yang kesulitan untuk menyelesaikan masalahrutin, non-rutin, rutin terapan, rutin non-terapan, non-rutin terapan, dan masalahnon-rutin non-terapan.SLB-B Yakut adalah sekolah luar biasa bagi siswa tunarungu yang beradadi bawah naungan Yayasan Kesejahteraan Usaha Tama (YAKUT). Sekolah initerletak di Jl. Kolonel Sugiri 10 Kranji, Purwokerto Timur. Jenjang pendidikan disekolah ini dimulai dari TK sampai SMA. Pada jenjang TK siswa mulai diajarkanberbicara dan mengenal suara ataau bunyi. Untuk jenjang SD, SMP, dan SMAsiswa mulai belajar seperti pada sekolah regular. Proses belajar mengajar dimulaipada pukul 7.00 sampai pukul 14.00. dan dilanjutkan dengan kegiatanekstrakurikuler hingga pukul 15.00. SLB-B Yakut saat ini sedang berupaya untukmenerapkan kurikulum 2013. Materi yang diajarkan pada siswa mengikuti standarkurikulum 2013 tetapi disesuaikan dengan karakteristik siswa tunarungu tersebut.Menurut Agusriyanto,14 pembelajaran matematika yang ada di SLB samadengan pembelajaran matematika di sekolah pada umumya. Hanya saja, jumlahjam tatap muka pada pelajaran matematika hanya sedikit, yaitu 1 jam pelajarandalam seminggu. Hal ini dikarenakan kurikulum SLB-B pada jenjang SMPmenerapkan 40% edukasi dan 60% vokasi.Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh SLB-B Yakut Purwokertoadalah tersedianya fasilitas ruang kelas dan guru mata pelajaran yang memadai.Disini, siswa berada dalam setiap jenjang kelas berada dalam ruang kelas yangberbeda, segingga guru lebih fokus dalam melakukan pembelajaran.Dalam penyampaian materi matematika, guru menjelaskan dengan lebihpelan disertai dengan gestur dan gerak bibir yang jelas, karena siswa dapat13Asep Amam, 2017, “Penilaian Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP”,Jurnal Teori dan Riset Matematika (TEOREMA), Vol. 2, No. 1, hlm. 41.14Guru mata