BAB VIII PERENCANAAN EVALUASI - Web UPI Official

6m ago
43 Views
0 Downloads
333.65 KB
34 Pages
Transcription

BAB VIIIPERENCANAAN EVALUASIDalam hal ini, evaluasi merupakan dimensi penting dari pendidikan. Evaluasiprogram pendidikan dapat dikatakan sebagai proses monitoring dan penyesuaian yangdikehendaki oleh para evaluator dalam menentukan atau meningkatkan kualitaspendidikan. Evaluasi menunjukkan seberapa baik program pendidikan berjalan danmenyediakan cara untuk memperbaikinya.Mengacu pada konsep manajemen, proses evaluasi pendidikan dapat dibagimenjadi tiga bagian utama: Perencanaan (Planning), Implementasi (Implementing),dan Evaluasi (Evaluating). Jadi dalam proses ini kita mulai dengan merencanakanevaluasi, mengimplementasikan evaluasi, dan mengevaluasi sistematisKita perludengancara(a) mengidentifikasi kebutuhan, (b) memilih strategi yang tepat dari berbagaialternatif, (c) memonitor perubahan yang muncul, dan (d) mengukur dampak dariperubahan tersebut. Mengevaluasi evaluasi berarti bahwa evaluasi itu hendaknyamemang harus dievaluasi (meta-evaluation).Jelas bahwa proses perencanaan evaluasi merupakan bagian yang palingpenting dalam proses evaluasi secara keseluruhan. Kita harus memiliki perencanaanevaluasi yang baik sebelum hal tersebut diimplementasikan. Dengan perencanaanyang baik, diharapkan bahwa implementasi evaluasi akan berjalan lancar sesuaidengan tujuan yang ingin dicapai.Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam merencanakan suatu evaluasi,yaitu (1) menentukan tujuan evaluasi, merumuskan masalah, (2) menentukan jenisdata, (3) menentukan sampel evaluasi, (4) menentukan model evaluasi sesuai dengantujuan evaluasi, (5) menentukan alat evaluasi, (6) merencanakan personal evaluasi,(7) merencanakan anggaran, dan (8) merencanakan jadwal kegiatan.

A. MANFAAT PERENCANAAN EVALUASI1. Pengertian Perencanaan EvaluasiSebelum kita berbicara mengenai perencanaan evaluasi, kita perdalamlebih dahulu istilah ‗rencana‘ dan ‗perencanaan‘. Kita pahami bahwa rencanaadalah ―a detailed proposal for doing or achieving something‖, artinya suaturancangan rinci untuk melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu. Dalam hal ini,perencanaan berarti ―proses merencanakan sesuatu‖.Harus kita sadari bahwa perencanaan merupakan suatu cara untukmemproyeksi maksud dan tujuan. Seperti yang telah kita tahu, perencanaanberkaitan dengan konsep masa depan, masalah-masalah yang memerlukanimajinasi dan pilihan (choice), pemikiran yang ditujukan ke masa depan, danproses mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, perencanaan mencerminkanupaya yang penuh pertimbangan. Perencanaan diakui sebagai cara yang palingandal (reliable) untuk mewujudkan tujuan dan sasaran.Perencanaanmerupakan suatu cara untuk menentukan serangkaian tindakan untukmengarahkan tindakan tersebut agar sesuai dengan visi.Ackoff menyatakan bahwa walaupun perencanaan itu merupakan suatuproses pembuatan-keputusan, perencanaan adalah jenis pembuatan keputusankhusus: (a) perencanaan merupakan sesuatu yang kita lakukan sebelumbertindak, artinya adalah pembuatan keputusan yang sifatnya antisipatif; (b)perencanaan diperlukan bila keadaan masa depan yang kita inginkan tersebutmelibatkan sejumlah putusan yang saling berkaitan, artinya suatu sistemkeputusan; dan (c) perencanaan merupakan suatu proses yang diarahkan untukmenghasilkan keadaan di masa depan yang diinginkan, dan tidak diharapkanmuncul kecuali ada suatu tindakan yang dilakukan.Jelaslah bahwa dengan perencanaan yang matang, tindakan yang kitalakukan biasanya akan mulus dan lancar, kecuali ada hal-hal lain yang tidak kitaperhitungkan sebelumnya atau yang memang tidak bisa kita antisipasi (dalambatas-batas kemampuan kita sebagai manusia). Sebagai contoh, Anda mungkin

pernah mendengar bahwa dengan perencanaan yang matang, berarti 50% daripekerjaan kita sudah selesai, sisanya tinggal implementasi dan evaluasi, sepertitampak pada Gambar 1 berikut ini.Dengan perencanaan yangmatang, berarti 50% daripekerjaan kita sudahselesai.Gambar 1: Pembicaraan dua orang evaluator mengenai perencanaanevaluasiSetelah kita mengenal konsep dan pengertian perencanaan, kita ulangsekilas mengenai konsep evaluasi itu sendiri.Dalam hal ini, evaluasipendidikan biasanya dibagi menjadi dua kategori umum: evaluasi sumatif(‗setelah‘) dan evaluasi formatif (‗selama‘). Bila kita melakukan kontemplasievaluasi dalam jangka panjang, biasanya kita berkenaan dengan evaluasisumatif, yaitu evaluasi yang muncul pada beberapa titik-akhir suatu proyek,program, atau matapelajaran yang dapat diidentifikasi. Sebagai contoh, ujiankomprehensif akhir dan nilai akhir siswa, kinerja tahunan dan penilaian kinerjaguru, dan penilaian program dalam bentuk evaluasi sumatif dalam pendidikan.Evaluasi sumatif biasanya dilakukan dengan maksud membuatpenilaian mengenai keseluruhan aktivitas dan program.Pengumpulan dananalisis biasanya ditujukan pada pengukuran hasil dan tingkat pencapaiandengan mengacu pada tujuan dan standar tertentu yang telah dipahami. Hasilpenilaian melalui proses ini dijadikan dasar formal untuk membuat keputusan.Contoh dari putusan ini antara lain yang berkenaan dengan apakah suatuprogram itu akan dilanjutkan atau dihentikan, aktivitas sekolah, penilaian guru,

penempatan siswa, dan kenaikan kelas atau naik pangkat. Putusan ini juga bisamenjadi dasar untuk penilaian komparatif, mengganti kurikulum lama dengankurikulum baru berdasarkan perbandingan yang dilakukan dari berbagai segi.Evaluasi formatif, sebaliknya, mengacu pada evaluasi yang munculselama proses atau produk itu dirancang. Evaluasi formatif biasanya digunakanuntuk memperbaiki pengembangan, dan dapat dikatakan sebagai evaluasiberkelanjutan yang mengiringi upaya pengembangan atau proses perubahanyang lebih besar.Evaluasi formatif sangat banyak digunakan, misalnya, saat melakukanimplementasi program atau sistem pengajaran baru.Melalui pengukuranformatif, guru dan administrator dapat memonitor kemajuan dari upayaimplementasi. Pengukuran ini bermanfaat bagi para praktisi untuk mendeteksidan memecahkan masalah sebelum masalah itu bertambah buruk tanpa kendali.Evaluasi formatif juga banyak digunakan dalam kaitannya dengan programpengembangan staf dan perubahan organisasi. Yang lebih penting, evaluasiformatif sangat berkaitan dengan perkembangan siswa.Selain evaluasi sumatif dan formatif, Tuckman (1985) menyarankanjenis evaluasi lainnya: ex post facto evaluation (after the fact – setelah fakta).Metode ini melihat proses kejadian-kejadian dan data secara longitudinal untukmenentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalanpendidikan. Evaluasi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan informasi danmemeriksa penilaian yang dibutuhkan untuk perencanaan pendidikan, untukmencatat hasil, kecenderungan (trend), dan arah masalah.Perencanaan akan senantiasa diperlukan jika seorang guru memutuskanuntuk melakukan prosedur evaluasi seperti evaluasi sejumlah siswa, tugas-tugasselama satu semester, keberhasilan mengajar, dan sebagainya.Setidaknyaperencanaan ini hendaknya melibatkan sejumlah hasil pembelajaran yangdiinginkan dan teknik-teknik yang digunakan dalam mengevaluasinya. Dapat

dikatakan bahwa perencanaan evaluasi merupakan conditio sine qua non dariproses evaluasi secara keseluruhan.Baik evaluasi formatif maupun sumatif dapat dilakukan untuk tujuanmotivasional dan tujuan korektif. Kombinasi dari kedua tujuan ini disajikanpada Tabel di bawah ini.MetodeFungsi dan TujuanMotivasionalKorektifFungsiFormatifa. Meningkatkan kinerja individub. Meningkatkan efisiensic. Menentukan tujuan di masadepana. Memodifikasi kinerja yangburukb. Menentukan masalah-masalahoperasi dalam suatu programbaruFungsiSumatifa. Menghargai kinerja yanga. Menghilangkan kelemahanungguldalam suatu programb. Menentukan tingkat pencapaian b. Menentukan kelemahan dalamtujuansuatu programc. Menjamin status (kepegawaian, c. Menentukan kebutuhan dankesiswaan)prioritas lembagaDengan demikian dapat disimpulkan bahwa maksud dari perencanaanevaluasi adalah menguraikan strategi mengenai cara mendapatkan dan menganalisisdata yang akan membantu meningkatkan efektivitas dari suatu evaluasi programpendidikan. Termasuk ke dalam perencanaan evaluasi ini adalah: (1) penjelasanmengenai perlunya evaluasi dan tanggung jawab melakukan evaluasi; (2) penentuanbatasan evaluasi dan analisis konteks evaluasi; (3) identifikasi pertanyaan, kriteria,dan masalah evaluatif; (4) perencanaan pengumpulan, analisis dan interpretasiinformasi; dan (5) mengembangkan team manajemen perencanaan evaluasi, termasukpenentuan waktu, anggaran dan biaya, personel, serta menentukan penilaian,monitoring, dan perbaikan perencanaan evaluasi sampai mendapatkan suatukesepakatan mengenai prosedur evaluasi yang akan dilakukan.

2. Pentingnya Perencanaan EvaluasiDalam memberi penjelasan mengenai perlunya evaluasi dan tanggung jawabmelakukan evaluasi, kita perlu memahami asal-mula dan alasan mengapa suatu studievaluasi itu dilakukan, lalu menilai apakah alasan itu layak atau tidak. Jika layak,maka dibuatlah perencanaan; jika tidak evaluator harus bisa mengemukakan alasanbahwa studi evaluasi yang diajukan tersebut memang tidak perlu dilakukan.Untuk memperjelas pembahasan, kita perlu membedakan beberapakelompok atau individu yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh suatu studievaluasi, yaitu: sponsors, clients, participants, stakeholders, dan audiences.Sponsor evaluasi adalah badan atau perorangan yang memiliki wewenangevaluasi dan menyediakan sumberdaya keuangan yang dibutuhkan untuk jalannyaevaluasi.Sponsor ini bisa saja memilih evaluator atau terlibat dalam evaluasitersebut, tetapi pada akhirnya merekalah yang memiliki wewenang yang berkaitandengan evaluasi, kecuali jika mereka mendelegasikan wewenang tersebut.Klien adalah badan atau perorangan tertentu yang memerlukan dan memintaevaluasi. Dalam beberapa hal, sponsor dan klien ini bisa saja badan atau lembagayang sama, tetapi tidak selalu begitu. Sebagai contoh, dalam evaluasi pihak ketigamengenai program persekolahan bagi anak berbakat di suatu kota, dinas pendidikan(klien) mungkin meminta dan menyusun studi evaluasi, tetapi sumberdaya danpembiayaan untuk evaluasi tersebut berasal dari departemen pendidikan nasional(sponsor).Evaluator tentunya ―ber-partisipasi‖ dalam studi evaluasi, malahanevaluator itu sendiri yang melaksanakannya.Tetapi di sini kita gunakan istilahpartisipan untuk mengacu pada mereka yang berinteraksi dengan evaluator selamaperencanaan dan pelaksanaan evaluasi. Termasuk ke dalam partisipan adalah klien(setidaknya selama tahap-tahap perencanaan) dan orang-orang yang menjadi sumberpengumpulan data (misalnya siswa yang ikut dalam suatu ujian atau yang mengisikuesioner).

Stakeholder adalah mereka yang secara langsung dipengaruhi oleh hasilevaluasi.Kepala sekolah, guru, dan orangtua termasuk ke dalam stakeholder.Sponsor, klien, dan partisipan biasanya adalah stakeholder juga, tetapi beberapastakeholder tidak termasuk ke dalam kelompok tersebut.Sebagai contoh,dimungkinkan (walaupun tidak bijaksana) untuk mengevaluasi program sekolah bagisiswa berbakat tanpa interaksi dengan gurunya. Jelas, guru tersebut akan banyakdipengaruhi oleh hasil dari studi evaluasi tersebut, sehingga mereka memang adalahstakeholders, walaupun mereka bukan partisipan.Audiens adalah individu, kelompok, dan lembaga yang memilikikepentingan dalam evaluasi dan menerima hasilnya. Sponsor dan klien biasanyamerupakan audiens utama dan kadang-kadang merupakan satu-satunya audiens.Biasanya audiens suatu evaluasi akan juga melibatkan semua stakeholder danpartisipan, walaupun tidak selalu begitu. Sebagai contoh, siswa SD mungkin menjadipartisipan dalam evaluasi mata pelajaran membaca. Mereka diamati, dites, ataudiwawancara.Tetapi hanya dalam cakupan tertentu saja mereka menunjukkanketertarikan atau kepentingan terhadap hasil evaluasi tersebut.Kita, sebagai evaluator, bisa mengakomodasi kepentingan berbagaikelompok atau individu tersebut.Memahami tujuan evaluasi adalah salah satuwawasan paling penting yang harus dimiliki seorang evaluator. Hal ini bisa diperkuatdengan pertanyaan seperti: ―Siapa yang membutuhkan? Apa yang mereka ingin tahu?Mengapa?‖Dalam hal ini, tugas penting seorang evaluator adalah menjelaskan tujuandan prosedur yang akan dilakukan kepada klien.Jika sponsor atau klien telahmemahami tujuan dan prosedur tersebut, penting juga bagi seorang evaluator untukmemahami motivasi mereka melakukan evaluasi. Evaluator dapat melakukan haltersebut dengan mengkaji pertanyaan-pertanyaan berikut:1.Mengapa evaluasi ini diperlukan? Apa tujuannya? Apa pertanyaan yang akandijawab oleh evaluasi tersebut?

2.Apa kegunaan dari temuan evaluasi yang dilakukan? Digunakan oleh siapa?Siapa lagi yang seharusnya diberi informasi mengenai hasil evaluasi ini?3.Apa yang akan dievaluasi? Apa saja yang terlibat? Apa yang tidak terlibat?Berapa lama jangka waktunya?Di mana?Untuk siapa objek inidimaksudkan? Siapa yang akan ikut serta (berpartisipasi)? Apa tujuan dansasarannya?Kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi?Siapa yangbertanggung jawab? Sudahkah hal tersebut dievaluasi sebelumnya?4.Berapa banyak waktu dan uang yang tersedia untuk evaluasi ini? Siapa yangbersedia membantu pelaksanaan evaluasi ini? Apakah ada beberapa informasiyang harus segera diketahui?5.Bagaimana iklim politik dan konteks seputar evaluasi? Adakah faktor dankekuatan politik (peraturan) yang mengatur pelaksanaan evaluasi dan standarhasil evaluasi?Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya merupakan contoh saja. Evaluatorbisa saja menambah atau mengurangi pertanyaan itu. Yang penting adalah bahwaevaluasi bisa memahami tujuan evaluasi.Brinkerhoff et al (1983) menyatakanbahwa tujuan evaluasi itu dianggap valid jika memenuhi kriteria berikut:Jelas (dipahami oleh para audiens utama)Bisa diperoleh atau accessible (disebarkan kepada mereka yang berhaktahu)Berguna (informasi yang dihasilkan akan dipakai dan diterapkan)Relevan (dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi yangberkaitan dengan program)Manusiawi (dapat dicapai tanpa merugikan mereka yang terlibat ataudipengaruhi)Kompati