Perkembang Gonad Induk Rajungan, Portunus Pelagicus .

9m ago
44 Views
0 Downloads
327.64 KB
7 Pages
Transcription

BioETIISBN 978-602-14989-0-3Perkembang Gonad Induk Rajungan, Portunus pelagicus(Linnaeus, 1758), dengan Manipulasi Pakan Alami dan BuatanEFRIZALJurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas, Kampus Limau Manis Padang 25163E-mail: [email protected] ini dilakukan untuk mengevaluasi tingkat perkembang gonad induk rajungan, Portunus pelagicus (Linnaeus,1758) dengan manipulasi pakan alami dan buatan. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pemberian pakan alami(Diet-1; kerang ikan lemuru; 1 : 1); pakan campuran (Diet-2; pakan alami pakan buatan; 1:1); dan pakan buatan(Diet-3; Pellet) secara keseluruhan dapat meningkatkan nilai tingkat kematangan gonad induk betina rajungan dari TKGII menjadi TKG IV dengan nilai ”rating scale” tingkat kematangan gonad mutlak (TKGm) berkisar antara 28,00 – 40,00dan keberhasilan berried female 20% pada hari ke-40 pada Diet-1.Key words: Rajungan, gonad, pakan alami dan buatanPendahuluanRajungan (Portunus pelagicus) merupakansalah satu jenis kepiting suku portunidae yangmempunyai potensi besar untuk menjadikomoditas ekspor perikanan yang pentingsebagai penghasil devisa negara dari sektor nonmigas atau perikanan, sehingga beberapa tahunbelakangan ini permintaan baik dari dalammaupun luar negeri mengalami peningkatandari tahun ke tahun. Menurut data sepuluhtahun terakhir bahwa periode 1993 – 2002volumeeksporrajunganmengalamipeningkatan rata-rata 16,72 % per tahun, yaitudari 6.081 ton pada tahun 1993 meningkatmenjadi 11.226 ton pada tahun 2002.Sedangkan nilai rajungan dalam 1.000 US mengalami peningkatan pada periode yangsama, yaitu sebesar 29,98 % pertahun dari US 14.901 pada tahun 1993 meningkat menjadiUS 90.349 pada tahun 2002 (Anonimus,2003 dalam Atifah, 2011).Untuk memulai usaha budidaya rajungan,masyarakat dihadapkan pada kendala utamayaitu kesulitan dalam memperoleh benih yangtepat jumlah, waktu dan ukuran (Efrizal dkk.,2012), sehingga diperlukan upaya ke arahpembenihan secara terkendali.Untuk ituketersediaan induk matang gonad atau teluryang tidak mengandalkan dari alam akansangat mendukung usaha pembenihan rajungandimasa mendatang.Rajungan termasuk di dalam kelasKrustasea sama seperti jenis udang lainnya.Untuk memacu perkembangan gonad hewantersebut dapat meniru seperti yang telahdilakukan pada udang, yang pada dasarnya adatiga cara yaitu : manipulasi hormon, pakan danmanipulasi lingkungan (Primavera, 1985).Pada kajian ini akan dilakukan pengamatanterhadap perkembang gonad induk rajungan,Portunus pelagicus (Linnaeus, 1758) denganmanipulasi pakan alami dan buatanBAHAN DAN METODETanah Kajian ini dilakukan di Balai BenihIkan Pantai (BBIP), Teluk Buo, Kota Padang,Balai Benih Ikan (BBI) Bungus, Kota Padangdan Laboratorium Fisiologi Hewan JurusanBiologi FMIPA, Padang, Sumatera Barat padaawal bulan Mei 2013 sampai Juli 2013.Rajungan uji yang dipergunakan dalampenelitian ini adalah 15 ekor rajungan betinadewasa kelamin; berat 104,30 – 293,10 gram;lebar karapas 106,39 – 188,35 mm; ovariumbelum berkembang (immature) tetapi telahmelakukan kopulasi, diperoleh diperaiaranpantai Kota Padang, Sumatera Barat. Wadahpemeliharaan berupa bak beton berbentukempat persegi panjang (200 cm x 100 cm x 100

Efrizalcm) sebanyak tiga buah, masing-masing diletakan dengan lima buah box plastik (45,5 cmx 32,5 cm x16,5 cm) yang dilengkapi denganshelter yang terbuat dari pipa PVC berdiameter13 cm dan panjang 30 cm). Kedalam bak diisidengan air laut ( 30-32 ppt ) yang terlebihdahuludisaringdenganfilterbag,kemudian disucihamakan dengan khlorine 25ppm selama 24 jam dan dinetralkan dengansodium thiosulfat 0,175 g/ton air.Indukrajungan ditebar dengan kepadatan lima ekorper bak yang pada bagian dasarnya diberilapisan pasir halus setebal 15 cm (Efrizal,2009). Setiap hari dilakukan monitoringterhadap ketinggian air 25-30 cm, salinitas 3032 ppt, pH 7-8, temperatur air 26-28oC, danDO 6.0-7.5 ppm. Selama pemeliharan indukrajungan diberi makan sesuai dengan perlakuanpada jam 0800, 1300 dan 1700 dan makananyang tersisa dibuang setiap pagi hari.Sebagai perlakuan dicobakan pakan alami(natural diet; kerang ikan lemuru ; P1),kombinasi pakan alami dan pakan buatan(formulated diet) (P2) dan pakan buatan (P3).Makanan alami terdiri dari daging kerang danikan lemuru. Pakan buatan (Tabel 1) adalahmodifikasi formulasi untuk induk (broodstock)kepiting bakau, mud crab, Scylla serrata(Millamena dan Quinitio, 2000). Sebelumdiberi pakan P2 dan P3, induk rajungan terlebihdahulu diberi pakan alami dan secaraberangsur-angsur diaklimatisasi dengan pakanbuatan selama 10 hari. Pakan diberikan dengandosis 10% dari biomass per hari untuk pakanalami, 3% untuk pakan buatan dan setengah(1/2) dari jumlah untuk pakan campuran(kombinasi). Pakan diberikan tiga kali seharipada jam 0800, 1300 dan 1700, denganpersentase 40% pada waktu pagi hari dansisanya dibagi dua pada waktu siang dan sorehari. Makanan yang tersisa dibuang setiap pagihari dan jumlah makanan disesuaikan denganpertambahan berat induk rajungan pada saatpengamatan. Jumlah induk rajungan yangmolting dan yang mati diamati dan dicatatsetiap hari.46Tabel 1. Komposisi pakan induk rajungan P. Pelagicus(modifikasi dari Millamena dan Quinitio, 2000)dalam g per 100 g berat kering pakan.Bahang/100 g dietTepung ikan lemuru20Tepung kerang20Tepung cumi (squid meal)20Tepung terigu (Wheat flour) 17Seaweed4Cod liver oil5Lesitin (Lechitin)3Cholesterol1Vitamin mix3Mineral mix4Calcium Carbonate3Data tingkat kematangan gonad mutlak indukrajungan, P. pelagicus (Linnaeus, 1758),disajikan dalam betuk tabel dan grafik serta dianalisis (statistical computer software, SPSSversion 17.0) dengan menggunakan one wayANOVA dan selanjutnya dilakukan UjiDuncan’s untuk mengetahui adanya perbedaanantara perlakuan (Steel dan Torrie, 1990).Sedangkan data persentase berried female dankecepatanpencapaianberriedfemaleditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik,kemudian di analisis secara deskriptif.HASIL DAN PEMBAHASANPerkembangan GonadPerkembangan gonad yang di analisis dalamkajian ini meliputi tingkat kematangan gonadmutlak (TKGm), persentase berried female danwaktu pencapaian berried female.Tingkat Kematangan Gonad MutlakKondisi tingkat kematangan gonad (TKG)induk betina rajungan dapat dilihat dengan caramenekan celah antara punggung kepiting danabdomen; bila kelihatan bewarna keputihputihan bearti gonad (ovarium) induk betinabelum berkembang, sebaliknya bila bewarnakuning atau orenye bermakna gonad (ovarium)induk betina tersebut telah berkembang ataumatang.Pada kajian ini tingkat kematangan gonadbetina (ovarium) rajungan uji diukur dariperubahan morfologi ovariumnya. Pada awalpenelitian (0 hari) terlihat bahwa seluruh induk

Efrizalbetina rajungan uji masih berada pada tingkatkematangan gonad (TKG) II (Tabel 2). Setelah10 hari pemeliharaan induk betina rajunganyang diberi perlakuan diet yang berbeda (Diet1, Diet-2 dan Diet-3) mempelihatkan adanyaperubahan nilai TKG yaitu dari TKG IIberekembang menjadi TKG III. Perkembangannilai TKG III ke TKG IV mulai terlihat padamasa pemeliharaan hari ke-20 pada perlakuanDiet-1 {Pakan Alami (Kerang Ikan Lemuru;1 : 1)}. Sedangkan pada perlakuan Diet-2 danDiet-3 perkembangan nilai TKG IV baruterlihat setelah pemeliharaan pada hari ke-40.Pada akhir penelitian (hari ke-40) perlakuanDiet-1 meperlihatkan perkembangan nilai TKGyang lebih tinggi (TKG V) dibandingkandengan perlakuan Diet-2 dan Diet-3 (TGK IV).Untuk mengukur dan mengnalisis nilai sebaranTKG pada kajian ini maka dilakukan ”ratingscale” dari nilai TKG ” yaitu TKG I 20;TKG II 40; TKG III 60; TKG IV 80, TKGV 100. Pemberian diet yang berbeda (Diet-1,Diet-2 dan Diet-3) secara keseluruhanmenyebabkan kenaikan nilai “rating scale”TKGm (Tabel 3 dan Gambar 1) yang lebihtinggi (40,00) dibandingkan pakan campuran(32,00) dan pakan buatan (28,00), namundengan analisisi sidik ragam perlakuan dietyang berbeda belum memberikan pengaruhyang nyata (P 0.05).Terjadinya kenaikan nilai ”rating scale”TKGm pada seluruh perlakuan menunjukkanadanya respon dari diet yang diberikan padainduk betina rajungan. Diet yang diberikanmenyebakan perubahan morfologi gonad, baikdari segi ukuran maupun warna, yangdipengaruhi oleh perkembangan sel oosit didalam ovarium induk betina rajungan. Hal inisejalan dengan pernyataan Fujaya (1996) danEfrizal (2005) , menyebutkan bahwa perubahanmorfologi ovarium pada induk crustacea betinadisebabkan oleh perkembangan sel telurterutama dalam bertambahnya deposisi kuningtelur (vitellogenesis) di dalam sel telur.47Tabel 2. Tingkat kematangan gonad (TKG) indukbetina rajungan, P. pelagicus (Linnaeus,1758), dengan perlakuan diet yang berbeda.PerlakuanP1 (Diet-1)P2 (Diet-2)P3 ngkat kematangan gonad (hari IIIIIIIIIIIIII4044486068Keterangan :Nilai “rating scale” tingkat kematangan Gonad (TKG): I 20;II 40; III 60; IV 80, V 100; P1 (Diet-1) Pakan Alami(Kerang Ikan Lemuru; 1 : 1); P2 (Diet-2) Pakan Campuran(Pakan alami Pakan Buatan; 1:1); P3 (Diet-3) PakanBuatan (Pellet)Tabel 3. Rataan pertambahan nilai “rating scale”tingkat kematangan gonad (TKG) dan tingkatkematangan gonad mutlak (TKGm) indukbetina rajungan, P. pelagicus (Linnaeus,1758), dengan perlakuan diet yang berbedaSamplingPerlakuan (n 5)(hari)P (Diet-1)P2 (Diet-2)P3 (Diet-3)040,00 0,00 40,00 0,00 40,00 0,001052,00 5,48 48,00 5,48 44,00 4,472068,00 5,48 56,00 4,47 48,00 5,483072,00 5,48 60,00 0,00 60,00 0,004080,00 7,07 72,00 5,48 68,00 5,48TKGm 40,00 7,07a 32,00 5,48a 28,00 5,48aKeterangan :Nilai dengan huruf kecil yang tidak sama berbeda nyata(P 0,05); Nilai adalah rataan standard errors (SE) dari limakali ulangan; TKGm pertambahan nilai “rating scale” tingkatkematangan gonad mutlak ; P1 (Diet-1) Pakan Alami(Kerang Ikan Lemuru; 1 : 1); P2 (Diet-2) Pakan Campuran(Pakan alami Pakan Buatan; 1:1); P3 (Diet-3) PakanBuatan (Pellet).Menurut Meusy dan Payen (1988)menyebutkan bahwa salah satu faktor lainyang mempengaruhi proses vitellogenesis padarepoduksi hewan betina Malacostracancrustacea adalah pakan buatan (pellet).Vitellogenesis merupakan proses pembentukankuning telur; vitellogenin disekresi ke dalamdarah dan dibawa ke sel telur untuk dibentukmenjadi kuning telur (Silversand et al., 1993).Lebih lenjut dijelasksan bahwa kuning telur

Efrizal48merupakan sumber nutrisi untuk perkembangandan pertumbuhan embrio.Nilai "rating" TKG1008060P1 (Diet-1)40P2 (Diet-2)P3 (Diet-3)20010203040Hari keGambar 1. Grafik rataan pertambahan nilai ”ratingscale” tingkat kematangan gonad (TKG)individu induk betina rajungan rajungan, P.pelagicus(Linnaeus, 1758), denganperlakuan diet yang berbeda.Persentase Berried FemaleInduk “berried female” terlihat pada indukyang telah mengalami perkembangan gonadpada tingkat TKG V, induk-induk betinarajungan pada fase ini, terlihat pada kondisipleopodnya yang ditumbuhi rambur-rambut(ovigerous setae) telah melekat butir-butir teluryang bewarna oranye untuk siap dierami(Gambar 2).Hasil pengamatan terhadap induk-indukbetina rajungan yang mengalami “berriedfemale” (TKG V) hanya terdapat padaperlakuan Diet-1 sebanyak satu ekor (20%) dihari ke-40 (Tabel 4 dan Gambar 3). Sedangkanpada perlakuan Diet-2 dan Diet-3 pada hari ke40 belum memperlihakan adanya induk-indukbetina yang mengalami “berried female”,namun kondisi TKG sudah berada pada tingkatTKG IV dengan persentase masing-masing60 % dan 20 %.Pada Tabel 4 dan Gambar 3 terlihat bahwarajungan yang diberi pakan alami (kerang ikan lemuru) dengan perbandingan 1:1menyebabkan adanya induk betina yangmengeluarkantelur(berriedfemale).Terjadinya induk betina rajungan yangmengalami berried female pada perlakuanpakan alami (Diet-1) di duga karena komposisinutrisi pakan alami yang diberikan lebihseimbang untuk mentriger terjadinya prosesvitellogenesis pada ovarian (gonad) hewantersebut. Menurut Meusy dan Payen (1988)Faktor lingkungan, seperti pakan yangberkualitas mampu menginduksi vetellogenesismelalui kontrol Vitellogenin Stimulatin Homon(VSH) dan Vitellogenin Inhibiting Hormon(VIH). VIH disekresikan oleh kelenjar sinusyang terletak pada tangkai mata (eyestalk) danbekerja di bawah pengaruh faktor-faktorlingkungan melalui organ-X. SelanjutnyaAdiyodi dan Adiyodi (1970) menjelaskan,apabila konsentrasi Gonad Stimulating Hormon(GSH) meningkat dan konsentrasi GonadInhibiting Hormon (GIH) menurun dalamsirkulasi maka pematangan sel-sel telur dalamgonad akan berlangsung.Gambar 2.Induk betina rajungan “berried female”dengan kondisi pleopod yang ditumbuhirambut-rambut (ovigeraous setae) dengantelur berwarna oranye.Kecepatan Pencapaian Berried FemaleKecepatan pencapaian berried female diukurdengan satuan waktu yaitu lamanya waktu yangdibutuhkan oleh induk untuk mencapai berriedfemale, sejak mendapatkan perlakuan sampaiberried female. Dari hasil pengamatan selamapenelitian terlihat bahwa 0 sampai 30 hari,untuk semua perlakuan belum terlihat adaanyainduk-induk betina rajungan yang mengalami“berried female”. Namun pada akhir penelitian(hari ke- 40) terlihat adanya induk betinarajungan yang berada pada tingkat “berriedfemale” (TKG V).

EfrizalPada kajian ini memperlihatkan bahwa waktupencapaian induk yang mengalami berriedfemale akibat pemberian pakan alami relatifcukup baik yaitu pada hari ke-40 dibandingkandengan faktor lingkungan lainya sepertipengaruh pemotongan tagkai mata terhadapkematangan gonad kepiting bakau, Scyllaserrata (Sulaiman dan Hanafi, 1992). Hasilpenelitianya melaporkan bahwa pemotongkantangkai mata baik pada keadaan kosong (nonberrid female) maupun dalam keadaan matangtelur tidak berpengaruh terhadap indekskematangan gonad (GSI) setelah 35 haripemeliharaan.Tabel 4. Persentase “berried female” induk betinarajungan, P. pelagicus (Linnaeus, 1758),dengan perlakuan diet yang berbeda.PerlakuanUlanganP1 (Di